Tampilkan postingan dengan label absurd. Tampilkan semua postingan

Tragedi Say It With Line

"Besok hari Senin. Dan besok libur."

Sebagai Mahasiswi yang sering berdoa, "Yaa Allah, semoga Senin libur, Yaa Allah," seharusnya aku senang. Namun, untuk kali ini tidak. Karena...

AKU BOCAN, YAA ALLAH! AKU BOCAN...

BOsan CANtik. Ahehehe.

(Kemudian Rima tewas dibakar massa... massa lalu.)

Dih. Mitamit. Kalimat pembuka macam apa itu?! Kebanyakan libur, kok, otak jadi ikutan libur juga, Rim?!

Iya, maaf. :(
Habisnya... mending liburnya dipakai jalan-jalan gitu, kan enak. Ini mah boro-boro. Waktunya, sih, ada, bisa gitu buat jalan-jalan... tapi anggaran dananya itu, loh. Ora nduwe. Hiks. Jadi terpaksa, deh, habis bimbingan akademik aku mengendap di kostan sampai masuk kuliah. Alhasil, bukannya fresh malah kayak orang stress. HEHEHE. HE HE HE.

Di sela-sela menikmati otak yang lumutan karena kebanyakan libur ini, aku asyik dengan henpon. Dari mulai update status dan ngetwit nggak jelas, sampai dengan ngerusuh di group chat. Apa banget deh pokoknya. Ewh~
Lalu, ada chat masuk dari Line Indonesia.


"Hmm... hmm... dapet sticker, ya. Leh uga... tapi, telepon siapa, ya?"


Aku bingung. Kata mamang Line "Telepon orang terdekatmu". Lah, siapa coba?
Ayah? Nggak punya Line. Boro. Henpon aja masih yang pencetannya keras kek batu itu. :(
Ibu? Jarang pake.
Pacar? Nggak punya. Ehm, maksudnya nggak punya pacar.
Mantan? Nggak deh. Ntar aku digrebek sama pacar barunya.
Sahabat? Yak! Ini diaaa.

Aku pun memutuskan untuk menelepon sahabat. Namun, karena sahabat aku banyak, aku bingung kembali mau menelepon yang mana. Gileee. Udah songong banget belum? Bhahaha.

Berhubung waktu pulang ke Lampung kemarin nggak ketemu sama Amel, sahabatku yang masih sibuk sama urusan kuliahnya di Bandung, aku pun meneleponnya. 'Kangen juga sama anak itu.'

Tenoonet~ tenoonet~ tenoonet~
Suara sambungan telepon di Line menggema di telingaku.

"Halo. Assalamualaikum," sapaku setelah bunyi tenoonet tenoonet tenoonet itu berhenti.

"Waalaikumsalam," jawab Amel yang logatnya mulai ke-sunda-sundaan. Halus pisan euy. Beda banget sama aku yang... yang gitulah pokoknya. Hhh~ "Ada apa, Rim?"

Belum sempat aku jawab, dia langsung menodong dengan pertanyaan... "Oh! Mau dapetin sticker, yaaaa?" Terdengar nada mengejek. Aku tau banget ekspresi menyebalkan seperti apa yang ada di seberang sana.

Kemudian, tidak perlu jeda lama. Hanya jeda 2 detik, tawa kami langsung pecah bersamaan.
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"

Masih dengan dialog tawa yang sama. Lama sekali. Sampai air mataku keluar. Tertawa yang tidak kontrol di tengah malam begini. 
"HAHAHAHAHAHA! GILA! GILA! GILA!" Aku tertawa sampai guling-guling di lantai kamar kost yang tidak terlalu besar, dan... BRAAAAAAK!

YAK.
SURPRISE!
Aku shock seketika, tapi masih terus tertawa. Malah makin tidak terkontrol.
"AH! GILAAAA! SAYA SAMPE NENDANG KIPAS ANGIN, NIH, MEL!" 
"HAH? KIPAS ANGIN? AHAHAHAHA."

Aku pun bangun dari posisi tidurku, dan menengok ke luar pintu...
"ASTAGFIRULLAH! TUTUPAN KIPASNYA SAMPE LEPAS GINI. TANGGUNG JAWAB, MEEEL! GEGARA KAMU, NIH."
"LAH, KOK, SAYA? HAHAHAHA. HAYO, LOH!"

Sambil memegang henpon, aku mencoba memasangkan kembali tutupan kipasnya. Nia, teman sekamarku yang juga belum tidur hanya bisa menggelengkan kepala. Antara sudah ngantuk, malas meladeni kelakuanku, atau sedang memikirkan rencana untuk mengusirku dari kamar ini nanti pagi. Alhamdulillah, kipas anginnya tidak jadi tewas dan Nia tidak jadi mengusirku dari kamar kost.

"Ada apa, Rim?" kata Yuana, teman kostanku yang lain, sambil membuka pintu kamarnya.

"Nggak ada apa-apa, Yun. Ini tadi kipasnya ketendang. Hehehe. Silakan tidur lagi, Yun. Hehehe." Yuana pun masuk lagi ke kamarnya.

Memang benar-benar si Rima ini. Rusuh maksimal! Ganggu orang tidur, iya. Hampir ngerusakin barang lagi, iya. Efek kebanyakan libur nggak gini juga kali. 

Maaf. :(

"Kok, tau, sih, Mel?"
"Taulaah."
"Ya, kalo tau juga mustinya pura-pura nggak tau aja gitu. Padahal saya udah nyiapin dialog tadi. Huft."
"Hahaha."
"Jangan-jangan ada yang habis telepon kamu juga, ya? Iya, kaaan?"
"Iya. Sama kamu jadi yang kedua kalinya, nih."

Meskipun niat awalnya udah ketahuan, aku tetap lanjut ngobrol. Tidak ada salahnya. Toh aku juga ingin melepas rindu. Obrolan kami pun ke mana-mana. Membahas kuliah dan pacarnya. Ada perasaan bahagia ketika mendengarkan cerita dari seseorang. Sebab aku tahu, di tiap cerita mereka selalu ada kepercayaan yang tersirat untukku. Aku bahagia diberi kepercayaan yang mereka miliki. Ya, kepercayaan itu mahal, gengs.... Maka dari itu aku selalu menjaganya. 

"Eh, kan kalo telepon pake Line selama 7 hari gitu bakal dapet Line Credit 20.000 tau," kata Amel.
"Iya tah?"
"Iya. Nggak percaya amat. Ntar saya kirim skrinsyutannya, deh."
"Hahaha. Oke. Eh, Mel, kok, suaranya menggema, sih? Lagi di kamar mandi, ya?"
"Iya, nih, mau eek."
"Hahaha." Bercanda mulu ini anak, batinku.
"Hahaha."
"Kok, masih menggema? Beneran mau eek, tah?"
"Iya, beneran." Kemudian di seberang telepon aku mendengar suara air.
"EDAAAAN. YA UDAH. UDAHAN DEH, YA."
"HAHAHA. IYA."
"ASSALAMUALAIKUM. DAAH."
"WAALAIKUMSALAM."

Telepon pun berakhir karena Amel mau eek. Penutupan yang tidak elegan sama sekali. Terima kasih, Amel.

Selesai mengakhiri telepon, henponku langsung berteriak, "LINE~" Suara yang menandakan ada chat masuk. Aku pun membukanya. Ternyata dari mamang Line lagi.

Wuiiih. Ternyata beneran.

"LINE~" Kali ini dari Amel.


Amel, kok, kita gini banget, ya? Hahaha. -___- #kamipecintagratisan #kamitidakakanmenyerah #kamipastibisa

Jadi, ada yang mau bantu aku dapet pulsa gratis? Malaikat Tak Bersayap ini akan meneleponmu~ Namun, kalau kamu sedang tidak beruntung, Malaikat Izroil yang akan meneleponmu~ :p

Terima kasih sudah membaca curhatan anak kost yang lagi gabut. Ada yang iseng telepon juga demi dapet sticker gratis kayak aku? Cerita, doong~ Aku tunggu, ya, di kolom komentar. \o/

Oiya. Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakan~ \^^/

***

(Diketik, diedit, dan diposting dengan henpon. Fyuuuh~ #RimaButuhLaptop #BeriRimaLaptopGratis #RimaPecintaGratisan)

Kejutan Dari September




Bulan September yang sangat-sangat berkesan.
Sebelumnya, aku mau berterima kasih sekaligus minta maaf ke teman-teman semua.
Terima kasih masih sudi mampir ke blog ini dan khilaf membaca tulisan-tulisanku.
Mohon maaf atas apa yang pernah aku tulis, mungkin ada yang pernah tersinggung atau tersakiti. Aku mohon maaf. Apalagi bulan ini udah jarang banget update blog. Maaf. :(

Banyak yang mau aku ceritain di sini. Tentang bulan September ini. Bulan yang penuh kejutan untukku.

Kejutan.
Kamu suka kejutan?
Kamu pernah mendapat kejutan?
Kapan kamu menerima kejutan-kejutan itu?
Kejutan itu apa, sih?

Kejutan adalah suatu keadaan ketika mata kamu berdenyut-denyut sendiri. Oh, itu kedutan.

Aku suka kejutan, tapi kalau dikejutin aku nggak suka. Soalnya aku orangnya kagetan. Kalau kaget, aku deg-degan. Kalau deg-degan, berarti aku jatuh cinta. Hhh~

Menurutku semua orang pasti pernah mendapat kejutan. Entah kejutan apa, dari siapa, dan bagaimana. Kejutan tidak melulu tentang ulang tahun. Dan ketika hanya sedang berulang tahun kamu mendapat kejutan. Tidak musti. Banyak hal yang bisa dibilang kejutan. Aku mau cerita beberapa kejutan yang aku alami beberapa hari ini.

Oke. Tarik napas dulu, ya. 

Hmmmmppppph~ 
 
Haaaaah~

***

Minggu, 20 September 2015
Hari ini aku ke Cilegon naik motor. Sendirian. Nekat. Aku tidak pernah mengendarai motor sampai sejauh ini. Biasanya hanya sekitaran Serang saja. Serang – Cilegon bisa ditempuh dalam waktu setengah jam. Kalau aku yang bawa, yaaa, 45 menitlah baru sampai. Hehe.
Masih di kawasan Serang, di Ciceri. Aku nggak tau jalan menuju ke Cilegon. Ketika sedang lampu merah, aku bertanya ke seorang laki-laki paruh baya di sebelahku.
“Permisi, Mas.”
“Ya?”
“Kalau mau ke Cilegon, jalannya ke mana, ya?”
“Oh, lurus aja, neng.”
“Lurus aja?”
“Iya… atau kalau nggak ikutin saya aja. Saya juga mau ke Cilegon.”
“Oh, gitu? Iya, Mas. Makasih….”
Lampu pun berganti hijau. Aku mengikutinya dari belakang. Lambat sekali jalannya. Ya, kebetulan, sih. Aku juga nggak begitu berani mendahului kendaraan yang ada di depan.
Ketika sudah hampir masuk Cilegon, si Masnya memberi kode agar aku mendahuluinya. Aku pun mendahuluinya. Dia pun pindah ke sebelah kendaraanku, beriringan.
“Neng, Cilegonnya di mana?”
“Hah?! Apa??”  kataku tak mendengarnya.
“Cilegonnya di manaa?”
“Oh, Halte PCI!” aku setengah berteriak.
“Haahh??” sekarang gentian si Masnya yang mendadak gangguan telinga.
Aku mengulang jawabanku sambil berusaha menoleh ke arahnya.
“HALTE PCI!”
Begitu aku menoleh ke depan lagi….
BRAAAAAAAAAK!
Aku terjatuh. Berusaha menghindari mobil yang kebetulan memang sedang diparkirkan di situ. Sulit sekali melihat ke samping kanan sambil tetap mengawasi pandanganku ke depan. Aku tidak fokus.
“Nggak apa-apa, Neng?”
“Nggak… nggak apa-apa, kok. Ha-ha,” aku malu. Tidak ingin ditonton banyak orang, aku berusaha bangun dengan bantuan Mas-mas itu. Si Masnya minta maaf, karena sudah mengajakku ngobrol di jalan. Aku, sih, yang salah. Harusnya minggir dulu, jangan ngobrol di jalan. Hhh~

Aku memeriksa keadaan motor. Alhamdulillah motornya nggak kenapa-kenapa. Cuma lecet sedikit. Aku pun melanjutkan tujuanku ke Cilegon yang tinggal sebentar lagi – dengan keadaan lutut kanan yang nyut-nyutan.
Sepulangnya dari Cilegon, aku memeriksa sumber rasa nyeri itu. Ternyata cuma lecet biasa. Alhamdulillah.


Senin, 21 September 2015
Ketika sedang di kelas, ada pesan masuk.
“Teh Rima, kalo sempet, beli tinta hitam 2, magenta 2, yellow 2, cian 1.”
Selesai kuliah, aku pun langsung berangkat dan mengajak Hanum. Tujuannya adalah ke MOS (Mall of Serang). Tinta printer di sana lebih murah. Sampai di sana, ternyata tinta hitamnya habis, hanya dapat yang cian. Aku memutuskan untuk membelinya di tempat lain.

Di parkiran MOS…
“Num, kamu aja, ya, yang bawa motor… masih nyeri, nih, kakinya…”kataku.
“Ya udah…”

Motor pun sudah keluar dari MOS dan melaju ke tempat jual tinta printer yang lain. Baru juga beberapa menit dari MOS, dari belakang ada Polisi yang mengejar kami dengan motornya.
“Mbak, tolong ikut saya sebentar,” katanya.

Kami hanya memasang wajah bingung yang mengisyaratkan pertanyaan “Ada apa? Kami salah apa? Mengapa kami berbeda?” Dengan berbagai banyak pertanyaan itu, kami menurutinya. Daripada dikejar, kan, malu.

Sampai di posnya, kami turun dan mengikuti si Bapak Polisi masuk ke ruangannya. Sial. Pikirku. Ada apaan lagi, sih, ini? Padahal kami sudah pakai helm, dan tidak menerabas lampu lalu lintas.
“Kenapa, ya, Pak?”
“Lampu stop di belakang motor itu warna putih, seharusnya warna merah.”
Dengan wajah polos aku bilang, “Emang iya, ya?”

Singkat cerita. Aku nggak tahu harus apa. Karena ini pertama kalinya aku ditilang. Si Bapak Polisi yang Terhormat sempat menyebutkan nominal yang harus kubayar untuk menebus tilang tanpa disidang. Cukup mencengangkan nominalnya. Akhirnya, aku mengharuskan diri untuk menelepon Ibu sebentar, dan aku disuruh untuk sidang saja. Oke. Baiklah. Aku memilih untuk hadir sidang tanggal 30 nanti dan STNK aku pun ditahan.


Rabu, 30 September 2015
Dari jam 7 pagi aku udah stay di kampus untuk hadir praktikum mata kuliah. Aku sengaja hari ini berangkat ke kampus naik motor. Biar nanti selesai praktikum aku langsung ke Pengadilan, bareng Hanum.
Aku belum pernah ikut persidangan. Di bayangan aku, tempat persidangannya itu luas, adem, dan menegangkan. Namun, ekspetasiku terlalu tinggi. Justru yang telihat malah sebaliknya. Tidak luas, tidak adem, dan tidak menegangkan.

Panas dan sumpek sekali. Hari ini banyak yang akan disidang. Aku dan Hanum berdiri di luar ruang sidang sambil memegang kartu tilangnya.
“Mau sidang?” kata Bapak-bapak di depanku.
“Iya.”
“Itu kartu tilangnya dikumpulin di sana, kalo nggak dikumpulin, ya, sampai besok pagi juga nggak akan dipanggil-panggil.”
Pffft. Malu-maluin si Rima.

Masih di luar ruangan….
“Num, bayarnya di mana, ya?” aku sambil menatap ke dalam. Ada 3 orang di depan sana. Yang di tengah Hakim, sebelah kiri Hakim ada seorang perempuan (entah dia sebagai apa, aku lupa), sebelah kiri Hakim ada seorang laki-laki yang memanggil daftar orang-orang yang akan disidang.
“Katanya, nanti ada tempat bayarnya,” jawab Hanum.
“Oh, ada tukang kasirnya gitu, ya?”
Aku tertawa dengan pertanyaanku sendiri. Iya, nanti habis disidang, bayar di kasir, terus keluar struknya.
Jenis tilang: Tidak pakai helm. Biaya: Rp. 50,0-
Jenis tilang: Pakai helm, tapi tidak pakai perasaan. Biaya: Siksa kubur.
Bebas, Rim!

Karena di luar panas, kami masuk ke ruangan. Dan ternyata lebih panas.
Di dalam, aku menemukan si Tukang Kasir yang tadi dicari. Di mejanya bertumpuk uang yang sudah disusun agak rapih.  Lumayan, tuh, buat beli mi instan berdus-dus untuk stock di kostan. Hehe.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Aku dan Hanum mulai cemas, karena jam sepuluh ada kuliah lagi. Namun, tidak lama dari itu, nama Hanum dipanggil. Aku pun maju untuk mewakili Hanum (Sssst… aku yang mewakili, soalnya Hanum belum punya SIM). Lagi pula aku yang salah, meminta Hanum untuk membawa motor. Maaf, Numeee. >.<

“Hanim? Harim?” kata Hakimnya.
“Hanum, Pak.”
“Oh, Hanum…”
“Saya Rima, Pak.”
“Loh? Kamu siapanya? Pacarnya, ya?”
“Hah?? Bukan, Pak. Bukan… saya temennya. Lagian, Hanum, kan, cewek…”
“Ya udahlah, udah… nggak apa-apa…” kata Bapak Hakim yang Terhormat, yang seolah-olah menganggap aku-pacaran-sama-cewek-juga-nggak-masalah.
Lalu satu ruangan sidang yang 97% lebih didominasi oleh cowok itu pada tertawa. Yak. Jadi….
SIDANG MACAM APA INI, YA TUHAAAAAN?!
NGGAK ADA SEREM-SEREMNYA.
MALAH LAWAK.
BHAAAAAY MAKSIMAL UNTUK BAPAK HAKIM.

Nggak sampai lima menit, sidang selesai. Aku membayar dan langsung ke kampus lagi.
Aku dan Hanum terlambat. Alhamdulillah masih diperbolehkan masuk.
Skip.
Kuliah selesai. Masih ada waktu satu setengah jam lagi, aku berniat melanjutkan desain spanduk untuk suatu acara. Aku pun balik ke kostan.
Dan inilah puncaknya kejutan di bulan September.
Aku parkir motor.
Aku masuk kostan.
Aku masuk kamar.
Daaaaaan.
Yak!
JENG-JEEEEENG.
Laptop aku nggak ada.
Yang ada hanya tas laptop, charger laptop, batere laptop yang sengaja aku lepas dan kutaruh di lemari, juga coolingpad.
Sudah kucari. Sepertinya laptop aku… diambil orang. Entah siapa. Aku nggak berani nuduh siapa-siapa. Aku bingung. Ini ketiga kalinya kostan aku kehilangan laptop, dengan korban yang berbeda.
Aku nggak nangis sampai kostan benar-benar sepi.
Data aku. Kenangannya banyak di sana. Semuanya. Hilang.
Astagfirullahaladzim.

***

Kejutan berturut-turut di bulan September. Terima kasih, September. Sangat berkesan. \o/
Di balik kejutan-kejutan ini ada hikmahnya.
Satu. Jangan ngobrol ketika sedang mengendarai. Baik mengendarai motor, mobil, atau buraq.
Dua. Jangan ganti-ganti lampu stop di belakang motor. Biarkan dia apa adanya.
Tiga. Jangan taruh laptop atau barang berharga lainnya sembarangan. Selagi masih bisa dibawa, lebih baik dibawa saja ke mana pun kamu pergi.
Empat. Jangan berpergian dengan meninggalkan rumah atau kamar dalam keadaan tidak terkunci. Pastikan rumah atau ruangan itu terkunci lebih dulu.
Lima. Jangan takut sama Hakim. Hakim itu nggak serem.
Enam. Rima itu normal. Nggak pernah dan nggak akan pacaran sama cewek.
Tujuh. Mohon maaf, kalau aku jadi jarang ngeblog. Rima udah nggak punya laptop lagi. Tapi, gimana pun caranya, aku usahain tetap konsisten ngeblog.
Delapan. Semangaaaat untuk kita semuaaaa!
Sembilan. Terima kasih udah baca postingan yang panjang ini.
Sepuluh. Ya udah. Gitu aja. 

Apa Ini?



Apa ini ?

Ini apa ?

Apa ? Ini

Ini ? Apa

? Apa ini

? Ini apa

?

Apa

Ini

?

Ini

Apa

Apa

?

Ini

Ini

?

Apa

Apa

Ini

?

Ini

Apa

?

AADC (Ada Apa Dengan Cermati)


Pada suatu hari di dunia kecoa. Alex, dengan tampilannya yang macho ala kecoa kekinian, diam-diam sangat mempercayai ramalan zodiak. Pagi-pagi buta Alex sudah bangun, dan seperti biasa Alex duduk di sudut kamarnya sambil memegangi gadget, membaca ramalan zodiak hari ini.

Taurus. Secara keseluruhan oke. Hmm.. Hmm..” Alex mengangguk.

Tidak ada permasalahan yang begitu rumit. Semua dapat teratasi dengan baik,” bibir Alex mulai melengkungkan senyum.

Namun, apabila dalam waktu dekat kamu tidak membeli motor, kamu akan mati.” Seketika hening. Lalu, seperti ada petir yang menyambar-nyambar Alex. Alex berteriak histeris sembari membentangkan sayapnya yang sangat sakral, kemudian terbang.

Setelah pikirannya tenang, Alex melipat sayapnya kembali. Alex tidak ingin tinggal diam. Alex berpikir, ia harus beli motor sekarang juga. Alex tidak ingin mati, karena besok Alex akan ‘menembak’ Wati. Namun, Alex bingung. Jumlah rupiah yang dimilikinya tidak begitu banyak, belum cukup untuk membeli motor. Pengetahuan Alex tentang pembelian motor pun sangat kurang. Sebagai kecoa macho berpenampilan kekinian, ia gagal. Alex pun pergi ke rumah Kakeknya yang merangkap menjadi seorang dukun untuk meminta wejangan.

Sudah diduga, wejangan dari Kakek memang paling mujarab. Sang Kakek mengeluarkan sesuatu dari baskom berasap yang ada di depannya. Laptop. Kemudian, ditunjukkannya laptop itu ke Alex. Sebuah tampilan website dengan gambar seorang perempuan yang mirip dengan mantannya memenuhi layar.



Ternyata Cermati, merupakan sebuah website milik perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi finansial. Cermati didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka seperti Google, LinkedIn, Microsoft dan Oracle. Tim Cermati memiliki pengalaman total lebih dari 12 tahun dalam mengerjakan aplikasi dan situs web yang digunakan lebih dari ratusan juta user di seluruh dunia.

Cermati.com ini menyediakan layanan dan fasilitas yang dapat memudahkan orang-orang maupun kecoa-kecoa dalam berfinansial. Kakek berkata, “Dengan Cermati, kita dapat menentukan produk keuangan atau perbankan yang dipilih dengan lebih cermat.” Alex mengangguk-angguk dengan antusias.

“Sekarang Kakek akan mengajarkanmu mengenai bagaimana cara untuk menggunakan layanan dan fasilitas yang ada di Cermati,” katanya dengan wajah yang semakin serius. Kini dahinya berkerut sampai kedua alisnya menyatu.


Tampilan website ini tidak rumit, sehingga mudah digunakan. Pertama-tama Alex diajarkan untuk gabung di Cermati. Alex tidak harus membuat akun terlebih dahulu. Karena, Alex bisa langsung gabung dengan cara login ke website menggunakan akun media sosial yang sudah dimiliki. Tadinya Alex mau login dengan akun Twitter, tapi karena ingat akun Twitter-nya sudah dibakar Wati yang ingin membantu Alex agar cepat move-on dari mantannya, akhirnya Alex pun memilih untuk login dengan Google+.

Setelah sukses bergabung, Kakek mengarahkan Alex untuk memilih menu ‘Pinjaman’ kemudian memilih sub menu ‘Kredit Motor’.


Kini Alex dihadapkan pada berbagai jenis motor. Alex dapat memilih sesuai model, merek, dan harga. Kelebihan serta fitur yang ada pada setiap motor pun dijelaskan, serta ada simulasi kreditnya. Lengkap sekali. Oleh karena itu, Alex dengan cepat langsung menjatuhkan pilihannya kepada motor bebek dengan harga yang sudah disesuaikan dengan rupiah yang dimilikinya.

Akhirnya, berkat Cermati Alex sudah membeli motor. Dan yang terpenting Alex tidak jadi mati.

Alex pun pamit pulang. Tidak lupa Alex sungkem kepada Kakeknya. Dandanan boleh macho, yang penting sopan dan santun kepada orangtua. Sambil sungkem, Alex sekalian meminta doa sang Kakek agar rencana ‘penembakan’ Wati dapat berjalan dengan lancar.

Sampai di rumah, Alex senyum-senyum sendiri. Ada apa dengan Cermati? Kenapa sampai membuatnya seperti orang yang sedang jatuh hati? Ah, ya.. Wati di mana, ya? Apakah Wati sudah cuci kaki? Alex berdebat dengan batinnya sendiri.

Berhubung zodiak Alex adalah Taurus, dan Taurus itu memiliki sifat kepo yang tinggi, Alex pun berniat untuk me-stalk Cermati.

Alex langsung mengeluarkan gadgetnya dan membuka website Cermati. Kemudian, dijelajahinya habis-habisan website tersebut. Ternyata, Cermati tidak hanya melayani Kredit Motor. Cermati juga menawarkan layanan dan fasilitas Kartu Kredit, Pinjaman Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multi Guna, Simpanan Tabungan, dan Deposito. Kini semuanya dipermudah…


Dan Alex sangat girang, begitu mengetahui Cermati memiliki artikel-artikel yang keren, juga tips yang bermanfaat. Pengetahuan Alex dalam berfinansial pun bertambah. Alex jadi lebih cermat dan pintar dalam mengelola keuangan. Alex membaca sampai tertidur.

***
Keesokan harinya…

Alex pergi ke rumah Wati untuk menembaknya. Wati menyambutnya dengan hangat. Ketika Alex mengutarakan perasaannya, tidak disangka Wati menerimanya. Tetapi dengan syarat..

Alex harus bisa menjawab semua soal-soal yang sudah dibuat oleh Wati. Maklum, Wati ini seorang dosen.

Alex kaget. Ternyata, semua soal-soal dari Wati tentang berfinansial. Alex dengan lancar dapat menjawab semuanya dengan benar.

Alex bahagia.
Berkat Cermati, Alex tidak jadi mati.
Berkat Cermati, Alex mendapatkan hati Wati, kecoa paling cantik di jamban ini.
Berkat Cermati, Alex jadi tahu Ada Apa Dengan Cermati.

Ada “Cermat” di dalam “Cermati”.


Kecoa aja gabung di Cermati, masa kamu nggak?
Ayo jadikan masyarakat Indonesia cermat ber-finansial!

Kejutan Ulang Tahun


Happy birthday my best, happy for you my friend
Make a wish and I will give you a kiss, mwaah!
Happy birthday my best, happy for you my friend
I wish you all the best! Mwaah! Mwaah!

Lagu “Birthday Kiss” dari Cherry Belle. Aku suka sama lagunya. Soalnya ada cium-ciumnya gitu. Lucu. Hehe. ._.

***

Akhir-akhir ini banyak teman aku yang bertambah tua. Iya, ceritanya ulang tahun gitu. Aku, sih, turut berbahagia aja, selama masih ada traktiran. Untuk anak kos seperti aku, dibutuhkan banget momen-momen kayak begitu. Apalagi di akhir bulan, makan gratis. Kan lumayan, irit pengeluaran. Ini juga yang disabdakan oleh nenek moyangku:

“Carilah teman sebanyak-banyaknya dengan tanggal dan bulan lahir yang berbeda, niscaya kau akan sejahtera.”

Sip.

Salah satu budaya di Negara kita, ketika sedang ada teman yang berulang tahun, yaitu ‘kasih kejutan’. Kejutan ini ada banyak macamnya, tergantung pribadi setiap orangnya. Ada teori begini:

“Semakin gesrek seseorang, semakin gila kejutannya.”

Kasih kejutan di hari ulang tahun itu boleh. Yang nggak boleh itu, kasih kejutan di hari ulang tahunnya sambil nyulik ayam tetangga, tetangganya nenek-nenek, dan nenek-neneknya anak yatim pula. Beuh. Dosa. Durhaka. Masuk neraka. Astagfirulloh.. Selama kasih kejutannya masih berperikemanusiaan, sih, nggak masalah. Iya nggak? Iyain aja udah. Biar cepet.

Di sini aku mau berbagi beberapa cerita kejutan di hari ulang tahun yang masih sedikit agak lumayan berperikemanusiaan. Mungkin ceritanya aneh dan nggak jelas. Kalau bingung, nanti kalian bisa tanya sama yang bersangkutan.


1.  Sesuai Musim
Ini kejutan di hari ulang tahun sahabat aku sejak SMA dan salah satu personil dari #FourMTM (kapan-kapan aku ceritain tentang #FourMTM), namanya Amel. Ceritanya bulan Februari kemarin, pas banget waktu anak kuliah lagi pada libur, jadi pada pulang kampung gitu, kecuali Sakinah (dia salah satu personil #FourMTM juga). Kesempatan, nih, buat aku sama Tiwi ngasih kejutan ke Amel. Karena waktunya mepet banget sama tanggal masuk kuliah, jadi rencananya aku sama Tiwi ini akan balik lagi ke tempat rantauan setelah memberi kejutan buat Amel. Ehm, so sweet, kan? *kibas poni*

Aku sama Tiwi ini bingung mau ngasih apaan. Kita pengin yang anti-mainstream gitu. Songong emang. Berhubung di Lampung waktu itu lagi musim duren dan rambutan, jadi pagi-pagi kita beli buah-buahan dan atribut yang lain. Untuk menghemat waktu, aku yang membeli atribut buat bikin tulisan ucapan dan Tiwi yang membeli buah-buahannya. Setelah selesai membeli, aku ke rumah Tiwi, kita mempersiapkan semuanya di sana. Sekitar jam sebelasan, semuanya udah selesai, aku sama Tiwi langsung pergi ke rumah Amel naik motor.

Selama di motor, sampai saat memasang lilin di atas duren, kita nggak bisa menghindari tatapan aneh dari orang-orang. Ini semua karena kita baru beli lilinnya, jadi baru dipasang di depan rumah Amel --- pas di pinggir jalan. Mungkin yang ada di benak mereka seperti ini, “DIH! ANEH BANGET INI ORANG. DUREN DIKASIH LILIN. ORANG GILA.” Oke. Terserah apa kata mereka. Kita nggak peduli.

Dan setelah siap, kita langsung masuk ke rumahnya. TARAAAAAA!


Kurang satu personilnya~
Foto kiri (Kiri ke kanan: Tiwi, Amel, Shireen Sungkar)


2. Video-videoan
Ini cerita tentang kejutan ulang tahun dalam video. Pemerannya adalah orang-orang yang spesial bagi si dia yang sedang berulang tahun. Baru dua kali aku memberi kejutan seperti ini. Pertama di ulang tahun Kharis. Kedua di ulang tahun Aulia.

Video untuk Khay (Kharis). Aku sama Aul (Aulia) berencana bikin video di hari Minggu dan di hari itu pula kita sudah janjian sama gebetannya si Khay. Ada 2 gebetan yang akan kita minta videonya. Emang tante-tante dia mah, gebetannya berceceran di mana-mana. *kabur naik buraq*

Tenang aja, kita minta videonya di tempat yang berbeda kok. Kalo bareng-bareng nanti yang ada bikin video gulat antar gebetan. Singkat cerita pengambilan video para gebetan udah selesai.

Kemudian lanjut video aku dan Aul. Waktu itu kita bingung mau bikin video kayak gimana. Akhirnya di dalam PKM kampus, kita melihat ada helm dan sapu. Kita pakai peralatan itu dan nyanyi Happy Birthday. Lalu jadilah seperti ini, silahkan dibayangkan…

Foto ini sudah lulus sensor.
Sekarang giliran aku sama Khay yang bikin video untuk Aul. Video mulu, ye? Hahaha. Namanya juga anak kostan. Pengin ngasih kado, tapi yang nggak perlu ngeluarin uang banyak. Ya udah bikin video lagi. Eh? Ini malah nggak keluar uang sama sekali, ya? HUWAHAHAHA.

Walaupun bikin video lagi, kita bikin sesuatu yang beda di video ini. Kita ambil video orang-orang terdekat Aul, gebetan, teman kelas dan teman organisasinya. Kita jadikan satu. Dan seperti biasa, yang terakhir video dari aku dan Khay. Di sini bedanya. Video kita bukan lagi ucapan nyanyi-nyanyi kayak anoa ayan gitu. Kita bikin video “Ciri-ciri Aul” dan “Kebiasaan Aul”. Jadi, di dalam video itu aku yang jadi peraga “Ciri-ciri Aul” dan Khay yang jadi peraga “Kebiasaan Aul”. Kebayang nggak? Hahaha. Ya udah. Pokoknya gitu daaah. Aku kasih fotonya aja, ya. Kalian bayangin sendiri. ._.



3. Makan Besar
Ini jenis kejutan yang mengeluarkan dana. Paling enak, sih, yang makan-makannya dari yang berulang tahun. Makan gratis. #AkuCintaGratisan

Di ulang tahunnya salah satu kader BKC, Kang Ismed. Berhubung Kang Ismed ini yang tertua dan sudah punya penghasilan sendiri, jadi dia sang donaturnya. Hehehe.

Acaranya di kostan aku yang dulu. Lokasi ini dipilih karena tempatnya yang memungkinkan untuk bikin bakar-bakaran ayam. Yap. Kita masak bareng-bareng, yang beli cuma bahannya aja. Seru. :)


Nah, ini versi makan-makan yang sumber dananya dari si temen-temennya yang berulang tahun. Di ulang tahun Nia dan Lisa kemarin, anak kostan kasih kejutan buat mereka. Kejutannya: Makan ‘besar’.

Sebenarnya ulang tahun mereka nggak barengan dan udah lewat beberapa hari. Tapi, anak kostan sengaja menggabungkannya (biar irit -_-) dan sengaja ngasihnya telat (biar.. ngg… biarin aja, suka-suka kita dong).

Mungkin ini nggak pantes disebut kejutan, soalnya nggak ada adegan sembunyi-sembunyi terus tiba-tiba ada makanan gitu. Kita malah masak blak-blakan di depan orangnya. Biarin aja. Habisnya males. Ribet. :))

Ini dia fotonyaaa~

Jangan lihat dari makanannya, tapi maknanya. Ehm.
Juru masaknya cuma satu, si Teh Maba. Aku cuma bantu-bantu dikit, soalnya sore baru pulang kuliah.

Sederhana, kan? Nggak kayak namanya “Makan Besar”. Hmm.. Mungkin bagi kalian itu sederhana, tapi bagi anak kostan seperti kita itu ‘mewah’. Hahaha. :)


4. Setan-setanan
Ini kejutan ulang tahun yang lumayan membekas di dalam sanubari. Dan sasarannya adalah aku.

Kejadiannya setahun yang lalu.
Waktu itu aku ketiduran di ruang tengah. Tiba-tiba aku kebangun karena ada suara yang memanggil, “Rim… Rima… Rim…”. Tae. Merinding aku ngetiknya.

Aku yang memang susah dibangunkan ini masih belum sadar. Suara yang memanggil namaku itu pun makin membesar, “RIM… RIMAA… RIM…” Kali ini aku merasakan ada yang menggoyang-goyangkan kakiku.

Dan berhasil! Mataku mulai terbuka. Aku mengerjap, melihat sekelilingku gelap. Hanya lampu kamar yang hidup. Ketika penglihatanku mulai jelas, aku terkejut dan menutup mataku kembali. Dalam hati aku berteriak, “ANJIR! APA ITU BARUSAN, WOY?! SETAN?? MASA, SIH, SETAN??” Jantungku berdebar-debar nggak karuan. Bibirku komat-kamit baca segala doa yang aku bisa. Tadinya mau aku tendang pakai jurus karate, tapi aku berpikir itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia, karena setan nggak bisa ditendang. Oke. Ini sok tau banget.

Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Aku lihat setannya udah nggak ada, aku pun langsung lari ke kamar.

Di kamar, aku nggak lihat Nia (teman sekamar aku). Aku mengecek ke kamar Lili, dan aku malah melihat setan itu lagi. Aku panik. Dengan bodohnya aku masuk ke kamarku lagi, sambil berteriak memanggil nama anak kostan, “NIAAAA! LILIIII! NITAAAA! PADA DI MANAAA, SIH??” Karena tidak ada jawaban, aku tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal, kemudian menangis. GEMBEEEEL! CEMEN ABIS!

Selang beberapa menit, aku mendengar suara nyanyian lagu Happy Birthday. Tangisku semakin kencang. Batinku berteriak, “KAMPREEEET. AKU DIKERJAIN!” Demi, deh, malunya nggak bisa diukur lagi. Aku merasa jadi manusia paling hina saat itu. Terima kasih untuk teman-teman kostanku tersayang. BHAY!

Ini tersangkanya: Nita.

Di hari ulang tahunnya Nurul (Teh Maba), anak kostan ngerjain dia dengan modus yang sama; setan-setanan. Oke. Ini saatnya balas dendam. Aku tau, balas dendam itu nggak baik..

Nggak baik kalau cuma sekali. :))

Ceritanya, yang jadi setannya aku sama Nia. Di luar, kita sudah memakai atributnya. Listrik kita matikan, kostan sukses gelap total. HAHA! Teh Maba yang ada di dalam kostan bersama yang lain sukses panik. Waktu Teh Maba mau mengecek listrik, dia teriak, “AAAAAAAAAAK! APA ITUUUU? APAAAA?!” Kemudian dia mengunci pintu dan masuk ke kamar.

Anjir! Pintu dikunci. Gimana kita masuknya coba? Ya kali bisa nembus pintu. Mana bisa! Namanya juga setan bohongan. Pfft. -__-

Daripada kita di luar sampai pagi, kemudian melebur dengan angin malam, akhirnya aku sama Nia pun mengakui kebohongan ini.

Singkat cerita, pintu dibukakan kembali. Kita nyanyi-nyanyi sambil ngasih kue. Dan seperti biasa…. Foto-foto…. Hehehe.




Gimana? Ceritanya nggak jelas, kan? XD

Segitu aja cerita dari aku. Kepanjangan, ya? Terima kasih untuk yang udah buang-buang waktunya buat baca cerita ini dari awal sampai akhir. Terima kasih juga buat yang udah baca bagian awal atau akhirnya aja. Hehehe. :p


Mungkin dari kalian ada yang punya cerita tentang kejutan di hari ulang tahun? Bolehlah cerita-cerita di kolom komentar. Ya.. Kita saling berbagi aja… Lumayan, kan.. Ide baru buat ngerjain orang. Hahahaha. Thanks! \o/