Tragedi Say It With Line
"Besok hari Senin. Dan besok libur."
Sebagai Mahasiswi yang sering berdoa, "Yaa Allah, semoga Senin libur, Yaa Allah," seharusnya aku senang. Namun, untuk kali ini tidak. Karena...
AKU BOCAN, YAA ALLAH! AKU BOCAN...
BOsan CANtik. Ahehehe.
(Kemudian Rima tewas dibakar massa... massa lalu.)
Dih. Mitamit. Kalimat pembuka macam apa itu?! Kebanyakan libur, kok, otak jadi ikutan libur juga, Rim?!
Iya, maaf. :(
Habisnya... mending liburnya dipakai jalan-jalan gitu, kan enak. Ini mah boro-boro. Waktunya, sih, ada, bisa gitu buat jalan-jalan... tapi anggaran dananya itu, loh. Ora nduwe. Hiks. Jadi terpaksa, deh, habis bimbingan akademik aku mengendap di kostan sampai masuk kuliah. Alhasil, bukannya fresh malah kayak orang stress. HEHEHE. HE HE HE.
Di sela-sela menikmati otak yang lumutan karena kebanyakan libur ini, aku asyik dengan henpon. Dari mulai update status dan ngetwit nggak jelas, sampai dengan ngerusuh di group chat. Apa banget deh pokoknya. Ewh~
Lalu, ada chat masuk dari Line Indonesia.
"Hmm... hmm... dapet sticker, ya. Leh uga... tapi, telepon siapa, ya?"
Aku bingung. Kata mamang Line "Telepon orang terdekatmu". Lah, siapa coba?
Ayah? Nggak punya Line. Boro. Henpon aja masih yang pencetannya keras kek batu itu. :(
Ibu? Jarang pake.
Pacar? Nggak punya. Ehm, maksudnya nggak punya pacar.
Mantan? Nggak deh. Ntar aku digrebek sama pacar barunya.
Sahabat? Yak! Ini diaaa.
Aku pun memutuskan untuk menelepon sahabat. Namun, karena sahabat aku banyak, aku bingung kembali mau menelepon yang mana. Gileee. Udah songong banget belum? Bhahaha.
Berhubung waktu pulang ke Lampung kemarin nggak ketemu sama Amel, sahabatku yang masih sibuk sama urusan kuliahnya di Bandung, aku pun meneleponnya. 'Kangen juga sama anak itu.'
Tenoonet~ tenoonet~ tenoonet~
Suara sambungan telepon di Line menggema di telingaku.
"Halo. Assalamualaikum," sapaku setelah bunyi tenoonet tenoonet tenoonet itu berhenti.
"Waalaikumsalam," jawab Amel yang logatnya mulai ke-sunda-sundaan. Halus pisan euy. Beda banget sama aku yang... yang gitulah pokoknya. Hhh~ "Ada apa, Rim?"
Belum sempat aku jawab, dia langsung menodong dengan pertanyaan... "Oh! Mau dapetin sticker, yaaaa?" Terdengar nada mengejek. Aku tau banget ekspresi menyebalkan seperti apa yang ada di seberang sana.
Kemudian, tidak perlu jeda lama. Hanya jeda 2 detik, tawa kami langsung pecah bersamaan.
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
Masih dengan dialog tawa yang sama. Lama sekali. Sampai air mataku keluar. Tertawa yang tidak kontrol di tengah malam begini.
"HAHAHAHAHAHA! GILA! GILA! GILA!" Aku tertawa sampai guling-guling di lantai kamar kost yang tidak terlalu besar, dan... BRAAAAAAK!
YAK.
SURPRISE!
Aku shock seketika, tapi masih terus tertawa. Malah makin tidak terkontrol.
"AH! GILAAAA! SAYA SAMPE NENDANG KIPAS ANGIN, NIH, MEL!"
"HAH? KIPAS ANGIN? AHAHAHAHA."
Aku pun bangun dari posisi tidurku, dan menengok ke luar pintu...
"ASTAGFIRULLAH! TUTUPAN KIPASNYA SAMPE LEPAS GINI. TANGGUNG JAWAB, MEEEL! GEGARA KAMU, NIH."
"LAH, KOK, SAYA? HAHAHAHA. HAYO, LOH!"
Sambil memegang henpon, aku mencoba memasangkan kembali tutupan kipasnya. Nia, teman sekamarku yang juga belum tidur hanya bisa menggelengkan kepala. Antara sudah ngantuk, malas meladeni kelakuanku, atau sedang memikirkan rencana untuk mengusirku dari kamar ini nanti pagi. Alhamdulillah, kipas anginnya tidak jadi tewas dan Nia tidak jadi mengusirku dari kamar kost.
"Ada apa, Rim?" kata Yuana, teman kostanku yang lain, sambil membuka pintu kamarnya.
"Nggak ada apa-apa, Yun. Ini tadi kipasnya ketendang. Hehehe. Silakan tidur lagi, Yun. Hehehe." Yuana pun masuk lagi ke kamarnya.
Memang benar-benar si Rima ini. Rusuh maksimal! Ganggu orang tidur, iya. Hampir ngerusakin barang lagi, iya. Efek kebanyakan libur nggak gini juga kali.
Maaf. :(
"Kok, tau, sih, Mel?"
"Taulaah."
"Ya, kalo tau juga mustinya pura-pura nggak tau aja gitu. Padahal saya udah nyiapin dialog tadi. Huft."
"Hahaha."
"Jangan-jangan ada yang habis telepon kamu juga, ya? Iya, kaaan?"
"Iya. Sama kamu jadi yang kedua kalinya, nih."
Meskipun niat awalnya udah ketahuan, aku tetap lanjut ngobrol. Tidak ada salahnya. Toh aku juga ingin melepas rindu. Obrolan kami pun ke mana-mana. Membahas kuliah dan pacarnya. Ada perasaan bahagia ketika mendengarkan cerita dari seseorang. Sebab aku tahu, di tiap cerita mereka selalu ada kepercayaan yang tersirat untukku. Aku bahagia diberi kepercayaan yang mereka miliki. Ya, kepercayaan itu mahal, gengs.... Maka dari itu aku selalu menjaganya.
"Eh, kan kalo telepon pake Line selama 7 hari gitu bakal dapet Line Credit 20.000 tau," kata Amel.
"Iya tah?"
"Iya. Nggak percaya amat. Ntar saya kirim skrinsyutannya, deh."
"Hahaha. Oke. Eh, Mel, kok, suaranya menggema, sih? Lagi di kamar mandi, ya?"
"Iya, nih, mau eek."
"Hahaha." Bercanda mulu ini anak, batinku.
"Hahaha."
"Kok, masih menggema? Beneran mau eek, tah?"
"Iya, beneran." Kemudian di seberang telepon aku mendengar suara air.
"EDAAAAN. YA UDAH. UDAHAN DEH, YA."
"HAHAHA. IYA."
"ASSALAMUALAIKUM. DAAH."
"WAALAIKUMSALAM."
Telepon pun berakhir karena Amel mau eek. Penutupan yang tidak elegan sama sekali. Terima kasih, Amel.
Selesai mengakhiri telepon, henponku langsung berteriak, "LINE~" Suara yang menandakan ada chat masuk. Aku pun membukanya. Ternyata dari mamang Line lagi.
![]() |
| Wuiiih. Ternyata beneran. |
"LINE~" Kali ini dari Amel.
Amel, kok, kita gini banget, ya? Hahaha. -___- #kamipecintagratisan #kamitidakakanmenyerah #kamipastibisa
Jadi, ada yang mau bantu aku dapet pulsa gratis? Malaikat Tak Bersayap ini akan meneleponmu~ Namun, kalau kamu sedang tidak beruntung, Malaikat Izroil yang akan meneleponmu~ :p
Terima kasih sudah membaca curhatan anak kost yang lagi gabut. Ada yang iseng telepon juga demi dapet sticker gratis kayak aku? Cerita, doong~ Aku tunggu, ya, di kolom komentar. \o/
Oiya. Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakan~ \^^/
(Diketik, diedit, dan diposting dengan henpon. Fyuuuh~ #RimaButuhLaptop #BeriRimaLaptopGratis #RimaPecintaGratisan)
***
(Diketik, diedit, dan diposting dengan henpon. Fyuuuh~ #RimaButuhLaptop #BeriRimaLaptopGratis #RimaPecintaGratisan)



















